Dua minggu kemudian
”Cika semangat ya untuk pertandingan hari ini. Ibu mendoakan kamu nak,” ucap Bu Indah.
”Terima kasih bu. Cika berangkat dulu ya. Sampai nanti Bu.”
Hari pertandingan basket antara SMA MAJU dan SMA Kembang berlangsung sangat meriah. Para pendukung dari kedua sekolah berdesakan di luar lapangan basket.
Cika bermain sangat baik hari ini. Ia mencetak banyak angka untuk tim nya. Hingga akhirnya Cika merasa sakit yang sangat menusuk di sekujur tubuhnya. Sangat sakit, Cika pun terjatuh dan semuanya menjadi sangat gelap.
Bu Indah hanya bisa menangis sejak menunggu anak angkatnya di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Cika mengidap penyakit kanker darah. Bu Indah sangat terkejut ketika mendengarnya. Apalagi dokter mengatakan bahwa kanker yang diidap oleh Cika sudah stadium akhir.
Ketika Cika mendengar semua penjelasan dari dokter, ia hanya bisa termenung. Bertanya-tanya mengapa semua ini dapat terjadi pada dirinya. Mengapa harus dia yang disinggahi oleh penyakit mematikan ini. Tapi pada akhirnya Cika dapat menerima semua itu. Cika sadar bahwa umur manusia maupun jalan hidupnya semua berada di tangan Tuhan.
Dua bulan setelah kejadian itu, kondisi Cika kian memburuk. Dokter memberitahukan kepada Bu Indah bahwa mungkin umur Cika sudah tidak lama lagi.
Merasa dirinya sudah tidak akan bertahan lama lagi, Cika meminta ijin untuk pergi keluar bersama Edward. Cika sangat beruntung, karena ia mempunyai Edward yang senantiasa menemaninya walaupun tahu kalau penyakit Cika sudah tidak bisa disembuhkan. Dokter mengabulkan permintaan Cika untuk keluar dari rumah sakit karena ingin pergi dengan Edward.
Cika dan Edward pergi ke sebuah taman. Mereka pergi ke situ atas permintaan Cika. Cika dan Edward duduk bersebelahan dengan tangan Edward merangkul Cika, tidak mau membiarkan gadis itu kedinginan.
”Edward, makasih ya selama ini kamu sudah mau menemani aku.”
”Cika, kamu ga perlu berterima kasih. Sudah sepatutnya aku melakukan itu untuk kamu.”
Hening sejenak.
”Aku sayang kamu Cika,” bisik Edward di telinga Cika.
”Aku juga sayang kamu,” balas Ciki.
Tiba-tiba sakit yang sama yang dirasakan Cika saat pertandingan basket dua bulan lalu menyerang Cika. Cika merosot dari tempat duduknya.
Sakitnya melebihi yang waktu itu, batin Cika.
Cika sudah mulai kehilangan kesadarannya. Badannya sudah tidak kuat menahan sakit itu.
”Cika, Cika kamu kenapa?” teriak Edward panik.
Di tengah ketidaksadaran Cika, ia melihat mamanya berdiri tidak jauh dari mereka.
”Mama, akhirnya kita bertemu lagi,” ucap Cika sambil merintih karena sakit. Senyum terukir di wajahnya hingga akhirnya ia memejamkan matanya dan tidak membukanya kembali.
~||~||~||~||~||~||~||~||~||~||~||~



.jpg)