Jumat, 06 Februari 2009

Pertemuan Kedua (part 3, THE END)

Dua minggu kemudian

”Cika semangat ya untuk pertandingan hari ini. Ibu mendoakan kamu nak,” ucap Bu Indah.
”Terima kasih bu. Cika berangkat dulu ya. Sampai nanti Bu.”

Hari pertandingan basket antara SMA MAJU dan SMA Kembang berlangsung sangat meriah. Para pendukung dari kedua sekolah berdesakan di luar lapangan basket.
Cika bermain sangat baik hari ini. Ia mencetak banyak angka untuk tim nya. Hingga akhirnya Cika merasa sakit yang sangat menusuk di sekujur tubuhnya. Sangat sakit, Cika pun terjatuh dan semuanya menjadi sangat gelap.

Bu Indah hanya bisa menangis sejak menunggu anak angkatnya di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Cika mengidap penyakit kanker darah. Bu Indah sangat terkejut ketika mendengarnya. Apalagi dokter mengatakan bahwa kanker yang diidap oleh Cika sudah stadium akhir.

Ketika Cika mendengar semua penjelasan dari dokter, ia hanya bisa termenung. Bertanya-tanya mengapa semua ini dapat terjadi pada dirinya. Mengapa harus dia yang disinggahi oleh penyakit mematikan ini. Tapi pada akhirnya Cika dapat menerima semua itu. Cika sadar bahwa umur manusia maupun jalan hidupnya semua berada di tangan Tuhan.


Dua bulan setelah kejadian itu, kondisi Cika kian memburuk. Dokter memberitahukan kepada Bu Indah bahwa mungkin umur Cika sudah tidak lama lagi.
Merasa dirinya sudah tidak akan bertahan lama lagi, Cika meminta ijin untuk pergi keluar bersama Edward. Cika sangat beruntung, karena ia mempunyai Edward yang senantiasa menemaninya walaupun tahu kalau penyakit Cika sudah tidak bisa disembuhkan. Dokter mengabulkan permintaan Cika untuk keluar dari rumah sakit karena ingin pergi dengan Edward.

Cika dan Edward pergi ke sebuah taman. Mereka pergi ke situ atas permintaan Cika. Cika dan Edward duduk bersebelahan dengan tangan Edward merangkul Cika, tidak mau membiarkan gadis itu kedinginan.

”Edward, makasih ya selama ini kamu sudah mau menemani aku.”
”Cika, kamu ga perlu berterima kasih. Sudah sepatutnya aku melakukan itu untuk kamu.”
Hening sejenak.
”Aku sayang kamu Cika,” bisik Edward di telinga Cika.
”Aku juga sayang kamu,” balas Ciki.

Tiba-tiba sakit yang sama yang dirasakan Cika saat pertandingan basket dua bulan lalu menyerang Cika. Cika merosot dari tempat duduknya.

Sakitnya melebihi yang waktu itu, batin Cika.

Cika sudah mulai kehilangan kesadarannya. Badannya sudah tidak kuat menahan sakit itu.

”Cika, Cika kamu kenapa?” teriak Edward panik.

Di tengah ketidaksadaran Cika, ia melihat mamanya berdiri tidak jauh dari mereka. 

”Mama, akhirnya kita bertemu lagi,” ucap Cika sambil merintih karena sakit. Senyum terukir di wajahnya hingga akhirnya ia memejamkan matanya dan tidak membukanya kembali.


~||~||~||~||~||~||~||~||~||~||~||~

Pertemuan Kedua (part 2)

7 tahun kemudian

”Dan penerima beasiswa bebas biaya pendidikan untuk bersekolah di SMA MAJU adalah..... Cika..!”

Suara tepuk tangan bergemuruh di Aula Sekolah SMP MAJU tempat Cika menghabiskan masa SMP-nya.

Cika maju ke panggung diiringi dengan tepuk tangan dimana-mana. Sementara di tempat duduk wali murid, seorang ibu berumur sekitar lima puluh tahunan sedang menangis.
Ibu itu adalah bu Indah. Ibu yang menemani Cika saat pemakaman Nyonya Surianti. Sejak saat itu Cika tinggal bersama bu Indah karena kebetulan Bu Indah tidak memiliki anak. Karena kasihan dan merasa sudah dekat dengan Cika, ia pun mau saja menerima Cika dalam rumahnya.

Senyum bangga terlihat jelas dari wajah Bu Indah.
”Tidak sia-sia saya mendidik dan menyekolahkan Cika. Ia selalu membuat saya bangga,” batin bu Indah.

”Selamat ya Cika. Prestasi kamu memang sangat baik. Bapak bangga kamu bisa mempertahankan prestasi kamu selama ini. Kamu tidak hanya berhasil di bidang akademik, tetapi juga di bidang non-akademik. Tetaplah rendah hati dan rajinlah selalu untuk meningkatkan prestasi kamu ini,” ucap Kepala Sekolah SMA MAJU.
”Terima kasih Pak.”

”Cika, selamat ya nak. Ibu bangga dengan kamu. Kamu berhasil mendapatkan beasiswa untuk jenjang pendidikan SMA kamu,” kata Bu Indah sambil memeluk dan membelai kepala Cika.
Cika pun membalas pelukan Ibu Indah yang sudah dianggap mamanya sendiri. Ia sangat sayang pada Bu Indah.
”Terima kasih ya Bu. Cika kan juga ga mau menyusahkan ibu terus. Dengan begini Cika bisa mengurangi beban pengeluaran ibu. Kan untuk biaya hidup sehari-hari saja sudah pas-pasan bu.”
”Kamu tidak merepotkan ibu kok nak. Justru ibu senang bisa membiayai sekolah kamu. Kamu kan sudah ibu anggap sebagai anak ibu sendiri.”
Cika memang sudah tahu bahwa Bu Indah menganggapnya akan sendiri. Tapi tetap saja Cika terharu mendengar ucapan Bu Indah.
”Terima kasih Bu, Cika sayang ibu.”
Sebutir air mata mengalir lagi dari mata Bu Indah.

Sesampainya di rumah, Cika membuka sebuah album foto. Album foto kenangan tentang ia dan mamanya.
“Ma, lihat Cika sedang berada di jalan menuju orang berhasil. Cika dapat beasiswa ma.”
Setelah kata-kata itu, Cika hanya bisa menangis. Ia rindu dengan mamanya, sangat rindu. Tapi ia teringat ucapan Bu indah saat di pemakaman.
”Sudah nak Cika, jangan menangis lagi. Ibumu melihat kamu dari atas sana lho. Kamu lihat awan itu? Mungkin saja ibu sedang ada disana, menunggu kamu tersenyum, bukannya menangis.”
Cika pun menghapus air matanya, memandang sekali lagi album foto itu sebelum akhirnya ia masukkan kembali ke dalam lemari
”Cika sayang mama,” ucap Cika.


Tiga bulan sudah Cika bersekolah di SMA MAJU. Ia mendapat banyak teman di sana. Prestasinya juga tetap dapat dibanggakan. Ia selalu mendapat nilai terbaik di kelas.
Wajahnya yang cantik dan manis dengan perawakan tubuh yang lumayan membuatnya tak luput dari perhatian anak-anak pria. Setelah tiga bulan bersekolah di SMA MAJU, Cika dapat dikatakan dekat dengan seorang kakak kelas laki-lakinya. Edward. Hal ini berlangsung secara tidak langsung karena seringnya mereka berlatih basket bersama.

”Cika, hari ini latihan ga?” tanya Edward pada Cika.
”Iy, hari ini aku latihan kok. Kan sudah mendekati hari pertandingan, masa tidak latihan,” jawab Cika sambil tersenyum.

Cantik sekali, batin Edward.

”Ya sudah. Oh iya Cika, hari ini pulang latihan sama aku saja. Kebetulan aku lagi bawa motor, daripada kamu jalan kaki, kan capai habis latihan harus jalan lagi,” ajak Edward.
”Emm, ga usah. Aku kuat kok jalan,” tolak Cika.
”Ayolah, pokoknya pulang latihan aku tunggu kamu tempat parkir ya. Sampai nanti.”
Tanpa mendengar pendapat Cika lagi, Edward langsung berlari ke tengah lapangan, meninggalkan Cika.


Seusai latihan, seperti yang sudah dikatakan Edward, ia menunggu Cika di tempat parkir. Ia pun mengantarkan Cika pulang.
Sesampainya di rumah Cika, Edward memerikan sebuah kalung yang berinisialkan nama Cika. ’C’ Cika pun bertanya-tanya untuk apa semua ini. Lalu Edward memulai pembicaraan.

”Cika, aku tahu kita baru dekat beberapa bulan ini. Tapi aku selalu memikirkan dirimu. Aku merasa ingin selalu dekat denganmu dan menjalani hari-hariku bersamamu Cika. Aku sayang kamu. Apakah kamu mau mejnadi bagian dari hari-hariku? Emm, setidaknya kita bisa coba dulu Cika.
Cika kaget mendengar pengakuan dari Edward, walaupun ia juga sebenarnya menyukai Edward, tapi ia tidak menyangka kalau Edward akan berbicara seperti itu secepat ini.

”Cika, bagaimana..?”
”Emm, aku..”
”Begini saja, kalau kamu mau menerima aku, kamu ambil kalung ini. Tapi kalau kamu tidak mau menerima aku, jatuhkan saja ke tanah.”
Cika berpikir beberapa saat. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengambil kalung dari Edward.
”Aku juga sayang kamu Edward,” ucap Cika sangat manis. Manis sekali sehingga membuat wajah Edward memerah karena melihatnya.

(to be continued)

Sabtu, 27 Desember 2008

Pertemuan Kedua (part 1)

Mei 1998

“Mama..!”
Udara dingin dan suasana sepi membuat suara tembakan dari arah teras rumah terdengar semakin kencang.Sebuah tembakan yang dilepas karena usaha seorang ibu untuk melindungi anak satu-satunya yang tercinta.
Hari itu sedang terjadi kerusuhan di daerah Jakarta Timur. Cika, seorang anak perempuan berumur delapan tahun menyaksikan sendiri mamanya ditembak oleh sekelompok orang berbaju dan bertopeng hitam.

”Mama, bangun ma...” Cita memanggil mamanya seraya menangis dan mengguncang-guncang tubuh mamanya. Darah menempel di tangannya. Bajunya pun sudah berubah warna menjadi warna darah merah segar karena memeluk mamanya. Erat, sangat erat. Untuk terakhir kalinya ia bisa memeluk mamanya, batin Cika.

”Cika...”
Tiba-tiba suara lirih terdengar di kuping Cika.
”Mama..?”
Menyadari bahwa ia tidak mempunyai banyak waktu lagi, sang mama berkata pada Cika.
”Cika, mama mungkin tidak bisa menemani kamu lagi nak. Tidak di samping kamu, tapi dari suatu tempat di atas sana.”
”Ma, jangan bicara seperti itu,” ucap Cika sambil menangis. Air mata sudah membanjiri wajahnya yang manis.
”Kamu jadilah anak yang baik dan berguna. Jangan kecewakan orang-orang disekitar kamu. Jadilah orang yang peduli dengan orang lain, dengan sesamamu. Jangan bandel ya.” Sebuah senyum tertoreh di bibir sang mama. Membuat Cika semakin sedih sekaligus merasa tenang.
”Iya ma.”
Cika sadar mungkin saat itu adalah saat terakhir ia bicara dengan mamanya. Usianya yang kini mencapai delapan tahun sudah mampu untuk mengerti hal seperti ini.

Keadaan gelap di kompleks perumahan itu, dengan saluran telepon terputus, dan orang-orang berbaju hitam yang masih berkeliaran di mana-mana, rasanya mustahil untuk meminta pertolongan.

Tiba-tiba saja tangan mamanya meremas tangan Cika, sangat keras, hingga akhirnya terlepas, jatuh dari genggaman tangan Cika.


Keesokan harinya,

Pemakaman Nyonya Surianti, mama Cika, berlangsung. Acara pemakaman tersebut banyak dikunjungi orang, baik sanak saudara, maupun tetangga.

Seorang anak menangis tiada henti di sebelah seorang ibu. Anak itu adalah Cika, dan ibu di sebelahya adalah Bu Indah, tetangga baik keluarga Cika.

”Sudah nak Cika, jangan menangis lagi. Ibumu melihat kamu dari atas sana lho. Kamu lihat awan itu? Mungkin saja ibu sedang ada disana, menunggu kamu tersenyum, bukannya menangis.”
Cika percaya akan apa yang baru dikatakan Bu Indah. Ia pun menorehkan sebuah senyum di bibirnya. Senyum yang paling manis yang pernah dilihat oleh Bu Indah.

”Cika sayang mama. Terima kasih ya ma, mama sudah menjaga Cika. Menemani Cika. Cika janji, Cika ga akan bandel, Cika akan jadi orang yang berguna dan peduli dengan sesama. Nanti kita ketemu lagi ya ma. Cika ga tau kapan. Tapi mama tunggu Cika ya. Sampai saat itu tiba, kita bisa ngobrol seperti dulu lagi.”
Sebutir air mata mengalir di pipi Cika, tapi senyum itu, senyum terindah untuk sang mama masih tertoreh di wajahnya.

Bu Indah yang mendengar perkataan Cika merasa hatinya sangat sakit. Ia merasa kasihan dengan keluarga Nyonya Surianti. Ia tidak menyangka kejadian ini dapat menimpa keluarga Surianti."Sudah jalan dari Tuhan,” ucap Bu Indah pelan.

(to be continued...)

When You Believe

Many nights we've prayed
With no proof anyone could hear
In our hearts a hopeful song
We barely understood
Now we are not afraid
Although we know there's much to fear
We were moving mountains long
Before we knew we could


There can be miracles
When you believe
Though hope is frail
It's hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve
When you believe
Somehow you will
You will when you believe


In this time of fear
When prayer so often proves in vain
Hope seems like the summer birds
Too swiftly flown away
Yet now i'm standing here
My heart's so full, i can't explain
Seeking faith and speaking words
I never thought i'd say


There can be miracles
When you believe
Though hope is frail
It's hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve
When you believe
Somehow you will
You will when you believe


They don't always happen when you ask
And it's easy to give in to your fears
But when you're blinded by your faith
Can't see your way through the rain
Honesty will reveal all
When hope is very near


There can be miracles
When you believe
Though hope is frail
It's hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve
When you believe
Somehow you will
You will when you believe

Tanya Sang Anak

Konon pada suatu desa terpencil
Terdapat sebuah keluarga
Terdiri dari sang ayah dan ibu
Serta seorang anak gadis muda dan naif!

Pada suatu hari sang anak bertanya pada sang ibu!Ibu!
Mengapa aku dilahirkan wanita?Sang ibu menjawab,
"Kerana ibu lebih kuat dari ayah!"Sang anak terdiam dan berkata,
"Kenapa jadi begitu?"

Sang anak pun bertanya kepada sang ayah!Ayah!
Kenapa ibu lebih kuat dari ayah?Ayah pun menjawab,
"Kerana ibumu seorang wanita!!!
Sang anak kembali terdiam.

Dan sang anak pun kembali bertanya!
Ayah!Apakah aku lebih kuat dari ayah?
Dan sang ayah pun kembali menjawab,
" Iya,kau adalah yang terkuat!"

Sang anak kembali terdiam dan sesekali mengerut dahinya.
Dan dia pun kembali melontarkan pertanyaan yang lain.
Ayah!Apakah aku lebih kuat dari ibu?

Ayah kembali menjawab,
"Iya kaulah yang terhebat dan terkuat!"

"Kenapa ayah, kenapa aku yang terkuat?"
Sang anak pun kembali melontarkan pertanyaan.

Sang ayah pun menjawab dengan perlahan dan penuh kelembutan.
"Kerana engkau adalah buah dari cintanya!

Cinta yang dapat membuat semua manusia tertunduk dan terdiam.

Cinta yang dapat membuat semua manusia buta, tuli serta bisu!

Dan kau adalah segalanya buat kami.

Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami.

Tawamu adalah tawa kami.

Tangismu adalah air mata kami.

Dan cintamu adalah cinta kami.

Dan sang anak pun kembali bertanya!
Apa itu Cinta, Ayah?
Apa itu cinta, Ibu?

Sang ayah dan ibu pun tersenyum!
Dan mereka pun menjawab,

"Kau, kau adalah cinta kami sayang.."



~ Khalil Gibran ~

Friends

FRIENDS:

8. Seorang teman sejati memenuhi janjinya kepadamu!
Sekecil apapun janji itu, janji tetaplah janji.
Apa yang kamu rasakan ketika seseorang tidak menepati janji yang telah ia buat pada kamu?
Jika kamu tidak pernah mau merasakan hal seperti itu, jangan
pernah sekali-kali melakukan hal itu kepada teman atau bahkan sahabatmu.

7. Seorang teman sejati rela berkorban untukmu!
Ketika kamu sedang bertengkar dengannya teman sejati akan berkorban untukmu.
Ia tidak peduli walaupun kamu yang salah, ia rela meminta maaf.
Ketika kamu sedang bertengkar dengan orang lain, dan kamu terlalu lemah dan lelah untuk
menyelesaikan masalahmu, ia rela menggantikan kamu untuk menyelesaikan masalahmu.
Teman sejati tidak memikirkan kesenangan untuk dirinya sendiri.

Ketika kamu sedang bertengkar dengan teman kamu yang juga merupakan teman dia, dia akan berkata "Kenapa kau tidak mengorbankan kami juga? Kami kan juga sahabat-sahabatmu?!"


6. Seorang teman sejati bisa mendengar suaramu, bahkan ketika orang lain tidak bisa
mendengarnya.
Ketika kamu sedang tidak ingin bicara, teman sejati tahu perasaanmu.
Ia bisa mendengar dan mengerti suara hatimu, suara hati yang tidak akan bisa didengar oleh orang lain.
Teman sejati tahu harus melakukan apa di kondisi apapun.
Ketika kamu sedang berada ditengah masalah dan berkata: "Mereka tidak bisa mendengar suaraku… mereka tidak bisa…".
Teman sejati akan berkata:"Tenang… Aku mendengarmu…"


5. Seorang teman sejati akan tetap membantu temannya, walaupun ketika mereka sedang
bertengkar atau bermusuhan.
Teman sejati ada setiap saat.
Walau kamu sedang bertengkar hebat sekalipun, ia akan ada untukmu.
Teman sejati tidak akan pernah meninggalkan kamu.

Bahkan ketika ia harus mengalahkan egonya untuk menolongmu disaat kalian sedang bertengkar.
Kamu adalah segalanya untuk dia.

4. Seorang teman sejati akan membelamu ketika kamu ditertawakan oleh orang lain.
Dalam suatu hal yang teman sejatimu selalu ketakutan berusaha melarikan diri sekencang mungkin dari hal itu. Ia ditertawakan habis-habisan. Tetapi ketika musuhmu mengatakan kamu itu pecundang dan seorang yang bodoh… itu lain ceritanya. Teman
sejati akan benar-benar marah ketika kamu ditertawakan.
Inilah yang ia katakan kepada temannnya yang lain yang ikut
bertarung bersama dengannya untuk membelamu: "Ada kalanya seorang
harus bangkit berdiri. Dan saat itu… adalah saat di mana sahabatnya ditertawakan orang!"
Teman sejati tidak akan terima ketika kamu disakiti oleh orang
lain.

3.
Seorang teman sejati tetap percaya padamu walau kau mengkhianatinya, karena dia percaya
bahwa persahabatan itu sungguh terlalu berarti untuk dikorbankan dan dihapus begitu saja.

Ketika kamu mengkianati teman sejatimu dengan begitu sadisnya.
Bahkan dihadapan orang-orang kamu mengatakan bahwa kamu tidak mengenal dia, dan memutuskan begitu saja semua ikatan persahabatan kalian, teman sejati tidak akan menyerah begitu saja.
Walaupun harus berusaha berapa kalipun, teman sejati akan terus berusaha membawa kamu kembali ke dalam kehidupannya.
Ia tidak akan mengatakan hal seperti: "Aku capai bersahabat
denganmu!"

2. Seorang teman sejati tanpa perduli batas waktu dan ruang akan selalu menjadi teman sejati
bagimu.
Ilustrasi
Vivi tidak bisa ikut dengan grup Going Merry. Ia mencintai negerinya, dan ia bertanggung jawab atas negeri itu karena dia adalah sang putri dari negeri itu. Jenny dan kawan-kawannya mengerti sekali alasan itu.
Vivi mengucapkan selamat tinggal - ia berkata "Maafkan aku tak
bisa tetap berpetualang bersama kalian - tapi kalau suatu saat kita bertemu lagi masihkah kalian mau menyebutku sebagai teman?", tetapi Luffy dan kawan-kawan tak bisa membalas teriakan selamat tinggal itu. Apa pasal? Karena angkatan laut ada di belakang mereka. Vivi tentu akan terlibat kesulitan kalau disangka memiliki hubungan dengan bajak laut.

Tetapi sebelum memasuki negeri Arabasta dahulu, semuanya sudah memiliki perjanjian, bahwa tato X yang diukir di lengan kiri mereka adalah tanda persahabatan mereka. Jenny dan kawan-kawan berbalik - seakan meninggalkan Vivi begitu saja. Namun kemudian, serentak mereka semua mengangkat tangan kiri mereka dan menunjukkan simbol X sebagai tanda persahabatan abadi mereka.

1. Seorang teman sejati ada di sana ketika kau memerlukan dia.
Mungkin kamu adalah orang yang suka memendam masalah dan perasaanmu sendiri.
Kamu tidak akan pernah mau membagi perasaan itu pada orang lain.
Bahkan teman sejati yang mendatangimu pun kamu usir.

"Kau tidak mengerti tentang masalahku"
"Ya… aku tidak tahu…"
"Kau sama sekali tidak mengerti lalu apa pedulimu?"
"Aku peduli"
"Diam kau… PERGI.. PERGI… PERGI…"
"…" teman sejatimu tidak beranjak.
"PERGI… PERGI… PERGI…"
"…" Ia tetap tidak beranjak.
"PERGI… PER… Kumohon… Tolonglah aku…"

Lalu apa yang akan teman sejati itu katakan?
"TENTU SAJAAAAAA!!!!!!!!!!!!"

Apa alasan ia menolong kamu? Padahal ia tidak tahu masalahmu.
Jawabannya disebutkan beberapa saat secara sederhana...
"Karena kamu adalah SAHABATnya… dan seseorang telah membuat kamu menangis"



SAHABAT selalu ada saat suka dan duka. Itulah yang membuat persahabatan menjadi berwarna.

Minggu, 21 Desember 2008

Unnamed pt. 2

Bulan tak mengerti ketika Bintang memintanya untuk hilang dari terangnya pagi, karena itu adalah saatnya Matahari bekerja.
Bulan tetap saja mau menampakkan dirinya, padahal Bintang peduli terhadap Bulan, tak ingin Bulan disakiti oleh sang Matahari.
Dan ketika malamnya Bulan tak terlihat sedang bersama dengan Bintang. Keduanya terlihat sedang asyik sendiri dengan kegiatan mereka. Bintang bermain dengan teman bintangnya, dan Bulan bermain dengan teman Bulannya.

Prishella's Music Player